Jumat, 17 Desember 2010

Prostitusi Waria di Pemakaman Kembang Kuning Surabaya


Oleh 
Akhmad Ryan Pratama


Latar Belakang

            Mengapa kawasan kembang kuning dapat menjadi salah satu tempat prostitusi di wilayah Surabaya. Hal ini dapat dijelaskan dengan berbagai alasan. Alasan pertama yang dapat dikemukakan ialah karena ditempat tersebut cahaya penerangan sangat minim dibandingkan dengan luas areal pemakaman yang sangat besar. Sehingga di beberapa tempat terlihat sangat remang-remang bahkan sangat gelap. Tempat-tempat tersebut yang dijadikan sebagai tempat prostitusi.
Kedua, proses prostitusi yang dilakukan di daerah tersbut telah berlangsung cukup lama. Walaupun begitu, pihak berwajib seperti satpol PP maupun aparat kepolisian jarang sekali merazia tempat tersebut, kalaupun mereka merazia, operasi tersebut telah diketahui terlebih dahulu oleh waria sehingga saat penggerebakan aparat tersebut tidak menemukan sasaran yang diincarnya. Kalaupun ada aparat tersebut harus berjibaku untuk mengejar waria tersebut, seringkali para aparat gagal untuk menangkap waria yang melarikan diri. Hal ini dikarenakan waria tersebut lebih mengenal kompleks pemakaman tersebut ketimbang aparat yang tidak mengenal lokasi itu, dan mereka harus mengejar dalam situasi yang sangat gelap.
Ketiga, disebabkan tidak adanya larangan dari pengelola pemakaman Kembang Kuning terhadap para waria ataupun PSK yang beroperasi di daerah tersebut, hanya saja pengelola pemakaman meminta agar PSK ataupun Waria tidak membuang sampah di sembarang tempat. Dalam hal ini sampah yang dimaksud ialah segala alat yang mereka gunakan selama menservis klien mereka. Kelonggaran ini membuat para PSK dan Waria semakin marak beroperasi didaerah ini.
Alasan keempat, para warga sekitarpun merasa acuh dan tidak mau peduli terhadap keberadaan waria ataupun PSk dilokasi tersebut. Bagi masyarakat dan Para Waria terjalin semacam consensus bersama yang menyebabkan mereka tidak akan saling mengganggu, selain itu keberadaan waria juga dapat memberikan pemasukan tambahan bagi warga sekitar yang menjadikan pemakaman tersebut sebagai salah satu stan atau warung sederhana mereka.
Prostitusi Waria di Kembang Kuning        
            Di Pemakaman Kembang kuning terdapat sekitar lebih dari 10 orang Waria yang beroperasi. Mereka beroperasi dari pukul 8 malam dan berakhir hingga jam 3 pagi, tetapi beberapa waria mengatakan bahwa mereka akan terius disitu hingga mereka memperoleh klien atau merasa lelah.  Berdasarkan sumber yang kami himpun  waria yang beroperasi di daerah itu telah saling mengenal satu sama lain. Hal ini menyebabkan konflik atau persaingan yang tidak sehat daintara mereka dapat dihindarkan. Tingkat solidaritas mereka yang tinggi juga disebabkan, karena adanya suatu lembaga yang memiliki tujuan untuk mengadakan suatu proses advokasi, konsolidasi dan perlindungan terhadap para waria. Lembaga tersebut disebut PERWAKOS ( Persatuan Waria Kota Surabaya), seluruh waria yang beroperasi didaerah Kembang kuning tergabung dalam lembaga tersebut. Sangat disayangkan ketika tim peneliti ingin meminta data lebih lanjut tentang PERWAKOS, tim tidak bisa menemukan sekretariatnya, dikarenakan secretariat tersebut telah berpindah tempat.
            Mengenai masalah tarif, para waria yang broperasi di pemakaman Kembang Kuning mematok tarif antara Rp. 15.000 hingga Rp. 25.000 untuk service short time yang langsung dilakukan di tempat tersebut. Apabila klien membawa keluar waria, maka tarif yang dikenakan berkisar antara Rp. 50.000 hingga Rp. 75.000. namun hampir semua waria yang beroperasi di kembang Kuning menolak untuk diajak keluar oleh klien mereka. Hal ini disebabkan seringkali mereka ditipu dengan cara mereka tidak dibayar oleh klien mereka setelah mereka menservis tamu mereka. Mereka menservis tamu mereka secara anal dan oral sex. Mereka selalu membawa dan menggunakan kondom saat melakukan anal sex dengan kliennya, hal ini mereka lakukan untuk mencegah penularan penyakit kelamin, dan hal ini mendapat bantuan sepenuhnya dari PERWAKOS.
            Keberadaan Germo di area kembang kuning ini tidak ada, sehingga para waria tersebut bebas menentukan tariff mereka. Selain itu dengan ketidakadaan germo di kembang kuning membuat mereka bekerja tanpa beban dan paksaan. Beberapa waria bertutur bahwa mereka sebenarnya ingin melepaskan diri atau meninggalkan pekerjaan ini. Mereka juga berharap agar bisa menjadi laki-laki yang normal dan memperoleh pekerjaan dari pemerintah.
Rere: Suatu Potret antara konflik Moralitas dan Realitas Kehidupan
Sebagai  sumber referensi lainnya  kami juga mewawancarai narasumber  lain yang beroprasi di daerah Kembang Kuning sebut saja Made alias Rere yang berasal dari Bali. Dia beroprasi di daerah tersebut sejak tahun 2004 hingga sampai saat ini, Rere melakukan praktek prostitusi dengan memberi servis kepada setiap para lelaki hidung belang dengan cara melakukan oral dan anal sex. Hampir sama dengan alasan kebanyakan waria lainnya yang datang ke kota Surabaya. Alasan made pergi ke kota Surabaya  di karenakan terbentur  alasan perekonomian serta disebabkan karena kekasihnya yang berkebangsaan Italia tidak mau memberi nafkah baik lahiriah maupun batiniah sehingga membuat Rere meninggalkan kekasihya tersebut untuk mencari kebebasan dan kehidupan yang lebih baik. Selain alasan diatas, ternyata masih terdapat alasan lain yang membuat Made alias Rere menjadi waria, yaitu karena efek psikologis yang diderita semasa remajanya. Tanda-tanda Rere menjadi waria mulai dirasakan sejak SMP kelas dua, yang waktu itu masih berumur 14 tahun. Akibat perlakuan dari sang ayah yang menuntut ingin mempunyai anak perempuan sehingga setiap hari Rere dipaksa untuk berpakaian feminine dan diperlakukan layaknya seorang gadis.
Pengaruh sang ayah yang sangat dominan sehingga akhirnya membentuk Rere menjadi seorang waria, walaupun pada puncaknya ketika ayahnya meninggal, kebiasaan berpakaian dan bersifat feminimnya tidak hilang, malah bahkan menjadi-jadi. Telah diakui Rere ketika pertama kali ia melakukan praktek sex, ialah ketika dirinya berumur 14 tahun.
Rere memilih kembang kuning dikarenakan lokasi ini memiliki karena dilokasi ini merupakan lokasi yang sangat strategis, hal ini dapat dilihat karena daerah tersebut dapat dikatakan sebagai daerah kurang elit bagi para PSK, hal ini didasarkan atas tarif PSK atau waria didaerah kembang kuning ini hanya berkiasar antara Rp. 25.000 hingga Rp.50.000.  karena bukan darah prostitusi legal sehingga sering terjadi razia yang dilakukan oleh satpol PP, seperti yang dikatakan rere bahwa kondisi geografis daerah ini sangat mendukung apabila rere beserta waria dan PSK lainnya berusaha meloloskan diri dari kejaran aparat satpol PP. Selain itu didaerah ini Rere mengaku memiliki kawan yang berprofesi sama, sehingga Rere tidak merasa sendirian, dengan mempunyai komunikasi yang bagus antara sesama rekan seprofesi, maka terjadi suatu persaingan yang sehat diantara mereka, sehingga konflik sangat jarang terjadi.
Selain itu, lokasi kembang kuning dipilihnya karena panduduk sekitar tempat tersebut acuh atau tidak mau peduli dengan adanya praktek prostitusi di daerah itu, rere bercerita selama kita tidak mengganggu mereka tidak akan mengganggu kita. Pihak pengelola tempat tersebut juga hanya menegur Rere dan rekan-rekan seprofesinya untuk menjaga kebersihan tempat pemakaman tersebut. Untuk itu Rere juga tidak lupa menginggatkan kliennya agar membuang sampah (kondom, tisu) ke tempat sampah yang telah dia sediakan.
Rere juga menceritakan selama menjalani profesi tersebut ia juga pernah mengalami suatu pengalaman yang tidak mengenakan. Yaitu pada saat ia msedang melayani kliennya di dalam mobil, ketika klien tersebut telah terpuaskan dan rere hendak menagaih bayarannya, kliennya tersebut dengan kasar menyuruh rere untuk keluar dari mobilnya. Akibatnya dengan perasaan Kecewa rerepun melempar kaca mobil kliennya dengan batu, lalu Rerepun melarikan diri. Rere juga menceritakan bahwa ada suatu wadah yang melindungi seluruh Waria kota Surabaya. Organisasi tersebut disebut PERWAKOS (Persatuan Waria Kota Surabaya). Hanya saja saat penelitiu hendak mencari data tentang organisasi tersebut, tim peneliti tidak berhasil menemukan sekretariatnya di daerah banyu biru.
Rere juga menuturkan, bahwa sebenarnya dia tidak ingin menjalani kehidupan dengan cara seperti ini. Ia juga menuturkan harapannya kepada kami, bahwa dia ingin kedua adiknya tidak meniru jejaknya dan dapat melanjutkan sekolah yang lebih baik dari dia sendiri, atas komitmen kepada kedua adiknya tersebut Rere bertekad bekerja keras untuk membiayai kedua adiknya yang masih bersekolah. Adik pertamanya masih kuliah di Universitas Udayana sedangkan adik keduanya masih kelas 2 SMA. Rere juga mempunyai harapan bahwa dalam 4 tahun ia akan giat menabung dan mempunyai modal untuk mendirikan usaha sendiri, sehingga ia bisa berhenti menjalani profesi ini. rere juga memiliki memiliki harapan untuk bisa menjalani hidup normal seperti laki-laki biasa pada umumnya.
 Moralitas Vs Realitas Kehidupan
Waria atau banci dalam terminologi bahasa Arab adalah "khuntsa" yang berarti seseorang yang memiliki dua kemaluan: dzakar/pelir dan vagina sekaligus. Dalam sebuah riwayat dari imam ad-Darimi disebutkan bahwa sahabat Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata, "Seorang waria bisa menerima warisan berdasarkan tempat keluar kencingnya dari arah kelaminnya".
Waria merupakan salah satu fenomena genetik yang memang sudah ada sejak masa lalu, sebelum masa Nabi saw[1].
Seseorang yang memiliki genetik waria harus dinilai dari aspek "psikis" seperti kecenderungan emosi, sikap, perilaku, dan lainnya. Jika dia cenderung kepada kelaki-lakian, maka harus dianggap sebagai laki-laki, begitu juga sebaliknya, jika cenderung kepada kewanitaan, maka harus dianggap wanita/perempuan.
Namun jika dia memiliki alat kemaluan satu tetapi memiliki gejala psikis yang berlawanan (misalnya jenis kelamin laki-laki tetapi memiliki psikis perempuan), maka juga harus dinilai dari aspek psikisnya. Yang penting gejala psikis itu adalah "alamiah", bukan "rekayasa". Yang dimaksud rekayasa misalnya karena untuk menarik popularitas dan materi, dia mau mengubah tampilan fisiknya secara berlawanan degan bawaan genetik-nya.
Waria dalam Islam

               Dalam pandangan Islam, membincangkan seputar waria tidak mendapatkan porsi yang besar, dibanding hukum-hukum yang lain. Sejak zaman Nabi-nabi dahulu, fenomena orang lelaki memyerupai perempuan itu sudah ada. Bahkan beberapa hadits sangat keras melihat fenomena tersebut. Salah satunya berbunyi :
 
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ اْلمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَاْلمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Artinya :
               “Rasulullah melaknat orang laki-laki yang menyerupai perempuan dan orang perempuan yang menyerupai laki-laki” (H.R. Bukhari)
               Pada waktu itu  datang seorang sahabat  kepada Nabi bersama seorang waria. Saat itulah Nabi bersabda sebagaimana hadits di atas. Saat itu Nabi ditanya seorang shahabat apakah dia harus dibunuh? Nabi menjawab agar ia diasingkan saja. Pengasingan diambil agar ia selamat dari cemoohan dan perlakuan diskriminasi dari masyarakat Arab yang memang keras saat itu. (Wahbah Zuhaily, al-Fiqh al-Islāmiy wa Adillatuh, juz. IV, hlm. 2683-2684).
               Oleh karenanya, perlu diketahui beberapa hal. Pertama, tujuan pengasingan yang dilakukan Nabi saat itu adalah untuk melindungi waria dari tindakan masyarakat yang mengancamnya. Kedua, waria yang diasingkan tersebut adalah lelaki yang memang sengaja mengubah dirinya menjadi wanita. Bukan faktor bawaan sejak kecil yang di luar kontrol dirinya. Inilah yang dikecam keras oleh Islam. Ketiga, pelarangan Nabi tersebut sebagai upaya menjaga keberlangsungan kehidupan manusia (hifdh al-nasl). Bagaimana jadinya jika seluruh pria di muka bumi ini menjadi pria? Tentu keberlangsungan hidup manusia akan terputus, karena proses keturunan akan terhenti[2].
               Perlu diketahui bahwa ada orang yang terpanggil menjadi waria karena semacam kodrat yang datang dengan sendirinya, tanpa dibentuk dan disengaja. Penentangan hadis tersebut terhadap waria justru pada mereka yang merubah keadaannya menjadi waria dengan sengaja dan sadar. Karenanya, waria yang lahir secara naluriah tanpa sengaja dibentuknya, tidak termasuk dalam cakupan hadis di atas.
               Lain halnya dengan laki-laki yang sengaja merubah dirinya menjadi perempuan, apalagi merubahnya dengan alasan ekonomi dan menjadi PSK seperti fenomena sekarang ini yang banyak kita jumpai di sudut-sudut kota besar. 

Waria dalam Masyarakat
        
           Pada dasarnya waria tidak pernah menginginkan dirinya dilahirkan menjadi seorang waria. Sama seperti oarng yang tidak pernah meminta lahir menjadi orang cacat fisik. Secara normatif, agama memang dengan jelas dan tegas melarang orang yang mengubah dirinya dari laki-laki menjadi wanita dengan sengaja.
               Tidak jarang para waria ini diperlakukan tidak secara manusiawi. Di dalam masyarakat dia dikecam, dalam keluarga mereka diusir, dan oleh negara mereka tidak diakui. Betapa perih batin yang mereka rasakan. Sementara mereka tidak tahu harus berbuat apa atas kelainan yang mereka derita.
               Keberadaan waria memang sebuah kenyataan kompleks. Ia terangkum dari berbagai faktor. Faktor didikan sejak kecil ternyata memainkan peranan cukup besar. Misalnya sejak kecil orang tua memperlakukan anak lelakinya seperti perempuan, memakaikan rok mini, anting-anting, bunga, dan semacamnya. Perlakuan ini akan membentuk watak anak menjadi lebih dominan bertingkah layaknya perempuan. (Prof. Dr. Koentjoro, Jawa Pos, 08/06/2005)[3].
               Aliran nativisme dalam psikologi perkembangan, anak kecil ibarat tabularasa atau semacam wadah kosong (Ladislaus Naisaban, Para Psikolog Terkemuka, hlm. 271-272). Segala yang diserap oleh anak pada fase pertumbuhan berpotensi ditiru menjadi watak. Fase ini dapat disebut sebagai fase cermin, karena segala tindakan yang berasal dari luar dirinya akan menjadi cermin bagi anak untuk menegaskan dirinya (Marx Bracher, Jeacques Lacan, Diskursus dan Perubahan Sosial, hlm. Xvi-xvii).

Konklusi
 
               Kenyataan ekonomi bangsa yang demikian parah dan terpuruk memaksa komponen masyarakat kelas bawah yang lemah, berusaha mendapatkan sesuap nasi dengan jalan apapun. Tidak jarang seseorang mengubah dirinya menjadi waria hanya karena faktor ekonomi. Waria sangat lekat dengan praktik prostitusi. Padahal banyak waria yang berpendidikan dan ia memilih menjadi waria bukan didorong faktor ekonomi, melainkan secara kodrati jiwa mereka seperti perempuan. oleh karena itu janganlah beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan hal yang menjijikan, namun bijaksanalah dalam menilai mereka dengan pendekatan humanis. bahwa apa yang mereka lakukan disebabkan oleh sebab-sebab lain, sehingga tetap hormatilah mereka sesuai martabat mereka sebagai sesama manusia. 

Wa'Allahua A'lam Bishawab...

Special Thanks:
Evrilla Reza, Dwi Wahyono Hadi, dan Radite, yang seluruhnya merupakan mahasiswa Ilmu Sejarah FIB UNAIR Angkatan 2007.

[2] http://cfssyogya.wordpress.com/2007/03/15/menghormati-waria/
[3] Ibid.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar